GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Pariwisata/Budaya
Beranda » Berita » Tarian Keluba Tanah Wulandoni Pukau Pengunjung Festival Lamaholot 2025 

Tarian Keluba Tanah Wulandoni Pukau Pengunjung Festival Lamaholot 2025 

Para penari Keluba Tanah desa Wulandoni pose bersama/Foto: Istimewa

 

LEMBATAVIVATIMUR.ID – Festival Lamaholot 2025 di Kota Lewoleba kabupaten Lembata berlangsung meriah dengan berbagai penampilan budaya yang memukau ratusan penonton pada hari kedua event tahunan itu, pantai Wulen Luo  Rabu 8 Oktober 2025.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Tari Kreasi Keluba Tanah (Periuk Tanah) yang merangkum keindahan proses kerajinan tangan tradisional peninggalan nenek moyang dari lepan batan Keroko puken.

Penampilan ini dipersembahkan oleh para pelajar dari Desa Wulandoni kabupaten Lembata.

Mereka menampilkan perpaduan tarian khas yang mengisahkan proses membuat Keluba Tanah yang digeluti wanita- wanita dari Doni Nusa Lela tanah Ulu Mado Desa Wulandoni.

Meriahkan HUT ke-27 Kabupaten Lembata, Puluhan Anak Ikut Lomba Mewarnai di Bukit Cinta 

Dengan gerakan lincah dan harmoni musik, para penari sukses menghipnotis para penonton yang memberikan tepuk tangan meriah sebagai bentuk apresiasi.

Dalam pentas tari dikisahkan proses mencari tanah liat pada tempat khusus di kampung lama Nua Lela. Proses mengambil tanah liat harus menggunakan alat dari kayo puken (tiang kayu) yang telah di runcing menyerupai tofa yang oleh warga disebut Kente.

Selanjutnya tanah liat dihaluskan dan di campur pasir halus dan dibuat gumpalan yang lazimnya disebut Knolo Knofal.

Proses selanjutnya gumpalan tanah di dipukul sampai bulatan pipi menyerupai mangkok, dan bulatan dibentuk menggunakan batu yang licin (Wato Lelabo) serta menggunakan papan pada bagian luar (Kajo Kwaka).

Pada tahapan ini bulatan pipi sudah menyerupai bentuk Periuk, mangkuk dan lainnya sesuai kebutuhan pengrajin.

Diikuti 30 Peserta, Disparekraf NTT Gelar Bimtek Pengolahan Abon Ikan di Lembata, Ini Outputnya 

Dalam gerak tari terlihat para penari membentuk Periuk yang kasar dihaluskan menggunakan sebilah buluh bambu yang oleh warga setempat disebut Meneu.

Proses terakhir adalah Periuk Tanah di jemur hingga kering dan siap dibakar. Sementara pada proses pembakaran harus menggunakan bara arang dan rumput ilalang.

Selanjutnya Periuk Tanah siap di pasarkan dengan sistem barter untuk meningkatkan pendapatan ekonomi rumah tangga.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement