LEMBATA|VIVATIMUR.ID – Pekerjaan pemulihan fasilitas sandar kapal di Pelabuhan Ferry Waijarang, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur tidak berjalan mulus, padahal ditarget rampung akhir tahun 2026.
Hingga Rabu 28 Oktober 2026, terpantau baru ada enam dari delapan tiang dolphin yang dipancang.
Nakhoda kapal TB.Ton 01, Habib dari PT. Amarta Tirta Buana kepada wartawan, Rabu 28 Oktober 2026 keluhkan lambannya pemancangan tiang dolphin di pelabuhan Waijarang.
“Kapal kita tiba di Lembata pada 14 Oktober 2026, selanjutnya 15 Oktober 2026 dilakukan pembersihan dan sterilisasi selanjutnya pemancangan tiang dolphin. Dan pada Senin 26 Oktober kegiatan pemancangan di pelabuhan Waijarang kita hentikan sambil menunggu informasi dari perusahaan kita”, ungkapnya.
Menurutnya, dalam kondisi normal di lapangan kapasitas pemancangan tiang dolphin berkisar antara 1 hingga 2 titik tiang per hari untuk satu rangkaian alat pancang. Maka untuk delapan tiang dolphin idealnya seminggu untuk proses pemancangan.
Dan Pekerjaan di laut sangat bergantung pada pasang surut air laut, kecepatan angin, dan tinggi gelombang. Jika ada aru, gelombang terlalu besar, ponton pancang (floating crane/barge) tidak akan stabil, dan pemancangan harus dihentikan demi keselamatan.
“Kami berharap proses pemancangan segera diselesaikan. Karena ada kerjaan menunggu. Tidak tahu apa kendalanya sehingga owner meminta kami untuk tidak melanjutkan pemancangan tiang dolphin. Sementara material semua tersedia di lokasi”, bebernya.
“Pemancangan 2 tiang dolphin seharusnya hari senin 26 Oktober, tetapi pihak perusahaan kita minta untuk hentikan dulu, dan tunggu hari Selasa tidak ada keputusan hingga hari Rabu ini tidak ada keputusan apapun. Kita tidak tahu kendalanya apa. Kita hanya ikut arahan dari kantor”, tandasnya.
Ia berharap agar proses pekerjaan sandar kapal di pelabuhan Waijarang segera dilanjutkan mengingat faktor alam yang tidak menentu.
kontraktor PT Sobo Rejo, Tangerang, Banten melalui bagian administrasi proyek, Try ketika dikonfirmasi mengatakan tidak mengetahui lambatnya pemasangan tiang dolphin di pelabuhan Waijarang.
“Untuk kendalanya kami tidak tahu, mungkin yang lebih tahu itu pihak mereka (Amarta Tirta Buana), cuma dari hari Senin 26 Oktober kita berusaha untuk tetap bekerja”, kata Try.
Menurutnya pihak kontraktor pelaksana tetap dan terus melakukan pekerjaan dan tidak mengetahui adanya instruksi untuk menghentikan pekerjaan di pelabuhan Waijarang.
“Dan sudah hari Rabu, tiga hari ini kita sedang coba untuk melakukan konfirmasi”, tandasnya.
Disampaikan, kehadiran PT Sobo Rejo di kabupaten Lembata untuk membantu masyarakat dan semaksimal mungkin mempercepat proses pengerjaan di pelabuhan Waijarang.
Ditanya terkait dugaan keterlambatan administrasi, menurut Try itu urusannya antar manajemen perusahaan. Kehadirannya di Lembata adalah untuk urusan pekerjaan.
Ia optimis tidak ada keterlambatan dalam proses pengerjaan di pelabuhan Waijarang. Sebab, pekerjaan dolphin tidak hanya pemancangan tetapi ada pembesian dan lainnya, yang artinya ketika satu pekerjaan tertahan yang lain tetap berjalan.
“Seperti sekarang ini pembesian tetap berjalan tidak ada hambatan dan progres kita tetap berjalan. Meski tiga hari ini tidak ada pemancangan tiang dolphin tetapi progres kita melambung tinggi. Dan kita masih punya save sekitar 20-30 persen, jadi meskipun ini tertahan satu dua minggu kedepan kita masih on progres”, ungkapnya.
Ia berharap agar semua pihak termasuk masyarakat tidak hanya melihat dari sudut kecil pemancangan tiang dolphin semata.
Menurutnya target penyelesaian sesuai kontrak dengan pihak ASDP akan selesai pada akhir bulan November 2026.
Anggota DPRD kabupaten Lembata, Blasius Huklele Gole Koban mempertanyakan lambannya pemancangan tiang dolphin di pelabuhan Waijarang.
“Pekerjaan tidak jalan ini kendala teknisnya apa, apakah ada kendala internal atau kendala administrasi kita tidak tahu. Dan seluruh fasilitasnya ada, termasuk material, mereka break ini kecuali mereka menunggu material maka ini masuk akal. Tetapi kalau seluruh materialnya ada di tempat maka harus dikejar pekerjaan ini”, harap Capt. Vigis sapaannya.
Ia berharap proses pengerjaan di pelabuhan Waijarang harus segera dilanjutkan. Sebab masyarakat kabupaten Lembata sangat membutuhkan pelabuhan Waijarang untuk mendukung lalulintas barang dan jasa dari dan ke kabupaten Lembata.
“Kita semua tahu kejadian di pelabuhan Waijarang ini kan sudah setahun. Dan sekarang semua peralatan sudah ada kenapa mundur lagi. Kalau mundur lagi bisa tidak setelah dermaga ini jadi dan di uji coba, sementara proses pengeringan juga butuh waktu, apa bisa digunakan sebelum nataru”, kata Vigis Koban.
Ia meminta agar proses pekerjaan segera dilanjutkan. Sebab Pelabuhan Laut Lewoleba yang saat ini gunakan oleh kapal ASDP bersifat pinjam pakai.
Sementara kepada kontraktor pelaksana dan pihak ASDP, Ia berharap agar segera melakukan evaluasi dan melakukan monitoring agar progres pekerjaan di pelabuhan Waijarang dapat berjalan sesuai kontrak.***




Komentar