GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Berita
Beranda » Berita » Workshop Tradisi Lisan Lamaholot Sebagai Basis Penciptaan Karya Kreatif Teater

Workshop Tradisi Lisan Lamaholot Sebagai Basis Penciptaan Karya Kreatif Teater

Nara Teater menggelar workshop tradisi lisan Lamaholot/Foto: Nara Teater

LARANTUKA|VIVATIMUR.ID – Nara Teater menggelar workshop tradisi lisan Lamaholot sebagai basis penciptaan karya kreatif teater yang berlangsung di Kebun Kreatif Nara Teater Lorong Cekdam Tabali Larantuka, Rabu-Kamis, 3-4 Desember 2025.

Workshop ini terselenggara atas dukungan pendanaan dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kementerian Kebudayaan Wilayaha XVI Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Tradisi lisan berperan penting dalam kehidupan masyarakat Lamaholot. Menyimpan pengetahuan, musikalitas, rasa bahasa, imagi dan keindahan auditif yang diekspresikan melalui nyanyian, pantun berbalas, mantra, cerita disertai tarian, atraksi sehingga dapat disebut sebagai pertunjukan budaya. Pertunjukan budaya adalah domain bagi seni pertunjukan.

Karya-karya Nara Teater sudah 9 tahun bersinggungan dengan tradisi lisan terutama menjadikannya sebagai basis penciptaan karya kreatif teater. Tradisi lisan sangat kaya.

Semakin digali, semakin disadari bahwa yang digali hanyalah bagian kecil dari kekayaan tradisi lisan yang memiliki kualitas (kedalaman).

Peserta Fishing Tournament 2026 dari Australia dan Timor Leste Puji Potensi Laut Lembata

Putu Rahmadewa Eka Karma dan Vitus Pehan dari Balai Pelestarian Kebudayaan melihat fakta bahwa makin terbatasnya pelaku tradisi lisan serta tergerusnya penguasaan tradisi lisan dari generasi ke generasi maka BPK memandang penting untuk mendukung segala bentuk kegiatan yang berhubungan dengan pelestarian terhadap khazanah tradisi lisan.

“Kegiatan ini berdampak bagi pewarisan tradisi lisan, apresiasi terhadap pelaku tradisi, regenerasi dan terutama kerja kreatif menjadikan pertunjukan budaya sebagai seni pertunjukan yang bisa dibawa kemana-mana menjumpai publik yang lebih luas dan beragam”, harap Putu Rahmadewa.

Bagi Silvester Petara Hurit, pendiri dan sutradara Nara Teater, tradisi lisan tak sebatas dipahami sebagai pengetahuan. Ia harus menjadi bagian dari pengalaman aktor yang kemudian dirancang-bangun menjadi peristiwa (pertunjukan).

“Selain dipelajari sebagai pengetahuan hidup, tradisi lisan memiliki kekuatan performatif dan sebagai orang Lamoholot, idealnya tradisi lisan mesti jadi bagian dari kebertubuhan aktor”.

Workshop menghadirkan 2 maestro tradisi lisan Dominikus Dei Lela dan Yohanes Nama.

BumDes Kawela Waijarang Pilih Kelola Sampah Sendiri, Hendro Wibowo: Bagian Dari Menjaga Kehidupan 

“Workshop ini adalah kesempatan bagi kami belajar bersama maestro tradisi lisan Lamaholot. Setidaknya kami para aktor dan seluruh elemen pertunjukan dapat bersentuhan secara empirik. Mengalami dan menghidupkannya sebagai seni yang tumbuh dalam ruang kuktural, sosial dan ekologis”, jelas Rin Wali Ketua Nara Teater.

Hero Maran, aktor Nara teater menyatakan bahwa workshop ini bermanfaat.

Penggalian dan eksperimen artistik berbasis tradisi lisan sudah jadi bagian perjalanan kekaryaan Nara Teater sepanjang ini. Apalagi sebagai kelompok yang lahir, tumbuh dan berkarya di bumi Lamaholot.

“Maestro tradisi lisan mestinya menjadi guru kehidupan kita. Pada merekalah sumber pengetahuan. Dan tradisi lisan mesti mendapat sentuhan kreativitas supaya terus aktual di zaman yang terus berubah”, jelasnya.***

“From Waste to Action”: Anak Muda Labuan Bajo Bergerak untuk Masa Depan Bebas Sampah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement