LARANTUKA|VIVATIMUR.ID – Suasana haru dan sukacita mewarnai Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, pada Rabu 11 Februari 2026, saat umat menyaksikan peristiwa bersejarah penahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro Pr, sebagai Uskup Keuskupan Larantuka.
Mgr Fransiskus Kopong Kung bertindak sebagai uskup penahbis utama. Ia didampingi dua uskup ko-konsekrator, yakni Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden dan Uskup Maumere Mgr Ewaldus Martinus Sedu.
Acara ini menjadi tonggak penting, bukan hanya bagi Keuskupan Larantuka tetapi juga bagi Gereja Katolik Indonesia. Lebih dari 34 uskup hadir dari seluruh Indonesia, termasuk para uskup emeritus dan biarawan biarawati.
Hadir pula Pejabat kedutan Vatikan Michael. A Paowlowicz, Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Gubernur NTT Melki Laka Lena, lara Bupati, tokoh adat, tokoh agama, TNI-Polri.
Dalam homilinya, Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD menyampaikan pesan mendalam akan akan moto episkopalnya Mgr. Yohanes Hans Menteiro “Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes”—sebuah trilogi kesatuan yang berarti Satu Tubuh, Satu Roh, dan Satu Pengharapan.
Mgr. Budi Kleden menegaskan bahwa penggunaan tiga genus bahasa Latin dalam kata “satu” tersebut merupakan simbol sebuah dekapan semesta, sebuah janji bahwa misi sang uskup akan “menggapai segala sudut, menyentuh semua kelompok, dan mengajak seluruh umat” tanpa terkecuali.
“Moto ini menjadi komitmen nyata untuk mempererat kerukunan di tengah keberagaman dan mempertebal iman umat yang kerap diuji oleh tantangan zaman”, ungkapnya.
Uskup Budi mengingatkan bahwa menjadi satu tubuh berarti memiliki keberanian untuk mengatasi ketersinggungan pribadi dan menumbuhkan kerelaan saling mengampuni,” sehingga perbedaan suku maupun pilihan politik tidak lagi menjadi tembok pemisah, melainkan kekayaan yang saling melengkapi dalam naungan satu Gereja.
Moto ini pun dipandang sebagai kompas moral yang relevan untuk menavigasi jurang sosial yang kian melebar, antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan yang merana dalam kemiskinan.
“Melalui semangat satu roh, Mgr. Hans dipanggil untuk membawa Gereja keluar dari “penjara ingat diri,” memastikan bahwa kesatuan yang diperjuangkan menjadi tanda keselamatan yang berdaya bagi para petani, nelayan, hingga mereka yang terpinggirkan di ufuk terjauh Keuskupan Larantuka”, tandasnya.***


Komentar