GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Inspirasi Kesehatan
Beranda » Berita » Kisah Inspiratif Katarina Leni, Dari Satgas Stunting di Lembata ke Ahli Gizi SPPG Noelbaki Kupang

Kisah Inspiratif Katarina Leni, Dari Satgas Stunting di Lembata ke Ahli Gizi SPPG Noelbaki Kupang

Kisah Inspiratif Katarina Leni Dari Satgas Stunting ke Ahli Gizi SPPG Noelbaki Kupang/Istimewa

LEMBATA|VIVATIMUR.ID – Di balik suksesnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), ada kisah-kisah inspiratif dari para tenaga muda yang bekerja untuk memastikan setiap anak mendapatkan makanan sehat.

Salah satunya datang dari Katarina Leni, seorang sarjana gizi asal Kabupaten Lembata yang kini bertugas di Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) Noelbaki di Kabupaten Kupang.

Katarina Leni memikul tanggung jawab besar dalam memastikan setiap porsi memenuhi standar kesehatan yang ketat.

Hal itu disampaikan dalam program siaran Spada Talking pada Jumat, 1 Mei 2026 di RRI Pro 2 Kupang.

Leni menceritakan kisah perjalanan, tantangan, hingga komitmennya dalam mengoptimalkan pemenuhan gizi seimbang bagi ribuan penerima manfaat setiap hari.

BumDes Kawela Waijarang Pilih Kelola Sampah Sendiri, Hendro Wibowo: Bagian Dari Menjaga Kehidupan 

Perjalanan Katarina Leni di dunia gizi bukanlah hal instan, melainkan berangkat dari pengalaman panjang di bidang sosial dan menjadi satgas penanganan stunting.

Ia mengaku panggilan jiwanya untuk kembali ke bidang gizi semakin kuat setelah sebelumnya terlibat sebagai satgas stunting selama tiga tahun.

“Ini benar-benar ke dasar bagi saya, karena sebelumnya saya juga banyak bergerak di bidang stunting dan pelayanan masyarakat,” ucapnya.

Momentum penting dalam kariernya terjadi saat ia bergabung dengan SPPG Noelbaki, dapur pertama di NTT yang menjalankan program MBG sejak 6 Januari.

Dalam kondisi serba terbatas di awal, ia bersama tim harus melayani lebih dari 3.000 penerima manfaat dari 12 sekolah hanya dengan berpedoman pada petunjuk teknis.

Komitmen Lembata Sehat: Dinkes Gelar Kegiatan Penguatan Mutu Pelayanan Internal Puskesmas

“Awal-awal kami benar-benar memulai dari nol, bahkan saya sempat bingung bagaimana mengaplikasikan juknis ke dalam kerja nyata,” ujarnya. Seiring berjalannya waktu, SPPG Noelbaki berkembang pesat hingga mampu melayani lebih dari 3.600 penerima manfaat per hari, termasuk balita, ibu hamil dan ibu menyusui.

Tak hanya itu, dapur ini kini menjadi rujukan pembelajaran bagi berbagai daerah di NTT bahkan luar wilayah. “Puji Tuhan, sampai hari ini kami tidak pernah mengalami kejadian luar biasa dan justru menjadi dapur rujukan,” kata Leni.

Di balik kesuksesan tersebut, terdapat kerja keras tanpa henti, termasuk rutinitas bekerja sejak dini hari demi memastikan keamanan dan kualitas makanan. Ia menekankan bahwa peran ahli gizi tidak hanya menyusun menu, tetapi juga mengawasi seluruh proses dari bahan baku hingga distribusi.

“Tugas kami adalah memastikan semua alur berjalan sesuai standar, dari bahan masuk sampai makanan diterima,” ujarnya. Tugas utamanya meliputi merancang menu seimbang, mengawasi proses pengolahan, memantau keamanan pangan (food safety), serta mengevaluasi dampak gizi.

Kreativitas menjadi kunci utama dalam menyajikan menu yang tidak hanya bergizi tetapi juga menarik bagi anak-anak. Katarina Leni mengembangkan berbagai inovasi olahan pangan lokal seperti ubi, tempe, dan sayur agar lebih diterima oleh penerima manfaat.

Peringatan Hari Posyandu Nasional 2026 di Lembata, Perkuat Komitmen Layanan Kesehatan Masyarakat

“Kami harus putar otak, misalnya tempe tidak disajikan biasa tapi diolah jadi perkedel atau bola-bola agar anak-anak mau makan,” tuturnya. Lebih dari sekadar program makan gratis, Katarina Leni melihat MBG sebagai gerakan edukasi gizi yang melibatkan masyarakat luas, termasuk keluarga dan sekolah.

Ia berharap kesadaran akan pentingnya gizi seimbang dimulai dari rumah, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. “Lebih baik kita manfaatkan pangan lokal yang gizinya tinggi daripada makanan instan yang kurang nilai gizinya,” katanya.

Optimalisasi Pemenuhan gizi Seimbang dan Kekuatan Pangan Lokal dalam Sajian MBG

Katarina Leni menjelaskan setiap porsi MBG dihitung secara presisi menggunakan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang disesuaikan dengan kelompok sasaran yang berbeda.

Konsep piring MBG mengacu pada pedoman gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan yang menekankan keberagaman pangan dan porsi yang sesuai kebutuhan.

Pangan lokal menjadi strategi penting dalam Optimalisasi Gizi

Melalui pendekatan gizi seimbang, sajian piring MBG tidak hanya berfokus pada rasa, tetapi juga pada komposisi nutrisi yang tepat dan terukur.

Ia menjelaskan pentingnya pemenuhan gizi seimbang dalam setiap sajian. Ia juga mengutarakan kunci utama kesuksesan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) terletak pada penggunaan bahan baku makanan segar yang dipasok langsung dari petani lokal.

Strategi ini memastikan bahwa setiap komoditas, mulai dari sayuran hijau hingga protein hewani, tetap terjaga kualitas gizinya saat diolah untuk memenuhi kebutuhan spesifik ribuan sasaran di wilayah Kabupaten Kupang.

“Kami sangat konsen menggunakan pangan lokal seperti ubi jalar, labu kuning, hingga nasi kelor karena selain nilai gizinya asli dan tinggi, kami juga ingin menghidupkan ekonomi petani lokal,” ujar Katarina Leni.

Penggunaan bahan segar ini menjadi pondasi penting dalam menyajikan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga fungsional bagi kesehatan jangka panjang anak-anak NTT. Terkait takaran, Katarina Leni menjelaskan setiap porsi MBG dihitung secara presisi menggunakan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang disesuaikan dengan kelompok sasaran yang berbeda.

Penentuan standar porsi ini menjadi tugas krusial ahli gizi guna memastikan asupan kalori dan makronutrisi harian tepat sasaran, baik untuk pertumbuhan fisik maupun kecerdasan otak siswa di sekolah.

Konsep piring MBG mengacu pada pedoman gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan yang menekankan keberagaman pangan dan porsi yang sesuai kebutuhan.

Khusus untuk balita di Posyandu, SPPG Noelbaki menerapkan tekstur dan komposisi gizi yang lebih spesifik, seperti penyediaan bubur saring yang kaya akan vitamin dan mineral.

Fokus utama pada kelompok ini adalah pengenalan protein hewani dan sayuran sejak dini melalui olahan kreatif agar anak-anak terbiasa dengan pola makan gizi seimbang tanpa rasa terpaksa.

“Untuk balita yang belum bisa makan nasi, kami layani dengan bubur saring yang ditambahkan parutan keju dan sayuran agar kebutuhan gizi mereka benar-benar terpenuhi,” tambah Katarina Leni.

Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa masa emas pertumbuhan anak tidak terlewatkan akibat kekurangan zat gizi mikro yang esensial.

Dalam praktiknya, variasi menu menjadi kunci agar makanan tetap menarik dan tidak membosankan, terutama bagi anak-anak. Katarina menuturkan, “Kami menyajikan berbagai warna dan jenis makanan, seperti nasi jagung, nasi kelor, hingga olahan ubi, supaya anak-anak tertarik dan tidak bosan dengan nasi putih saja.”

Selain itu, pemanfaatan pangan lokal juga menjadi strategi penting dalam optimalisasi gizi.

Menurutnya, bahan seperti ubi jalar, labu, dan daun kelor tidak hanya kaya nutrisi, tetapi juga mendukung ekonomi lokal. “Kalau semua SPPG menggunakan pangan lokal, kita tidak hanya dapat gizinya, tapi juga membantu petani lokal,” ungkapnya.

Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam membentuk kebiasaan makan anak-anak yang cenderung memilih makanan tertentu. “Anak-anak cepat bosan dan punya preferensi, jadi kami harus kreatif mengolah bahan seperti tempe atau tahu agar lebih menarik,” katanya.

Katarina juga menekankan penerapan gizi seimbang tidak hanya tanggung jawab program MBG, tetapi juga harus dimulai dari rumah. “Pesan saya, mari biasakan konsumsi pangan lokal dan terapkan gizi seimbang sejak 1.000 hari pertama kehidupan agar generasi kita tumbuh sehat dan kuat,” tuturnya.

Sumber: RRI

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement