LEWOLEBA|VIVATIMUR.ID – Fenomena udara kabur atau haze menyelimuti sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa hari terakhir, menyebabkan bentang bukit dan pegunungan tidak terlihat jelas.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena tersebut teramati di sejumlah wilayah, termasuk Pulau Lembata dalam beberapa pekan terakhir.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Helni Yovin Mega Milla, menjelaskan bahwa haze merupakan kondisi udara kabur akibat partikel kering yang berada di atmosfer.
Fenomena ini berbeda dengan kabut yang terbentuk akibat tingginya kandungan uap air di udara.
Menurut Helni, fenomena haze yang terjadi di NTT diduga berkaitan dengan sebaran asap dari Papua yang terbawa angin menuju wilayah tersebut.
Kondisi musim kemarau dan dominasi angin timuran turut mendukung pergerakan asap hingga mencapai wilayah Nusa Tenggara Timur.
Ia menjelaskan, lapisan inversi di atmosfer juga berperan dalam menahan asap sehingga tidak mudah naik dan menyebar ke lapisan udara yang lebih tinggi.
Akibatnya, partikel asap dapat bertahan di atmosfer dan menyebabkan langit terlihat keruh dalam periode tertentu.
Berdasarkan data kualitas udara yang disampaikan BMKG saat wawancara, kondisi udara di NTT berada dalam kategori sedang berdasarkan indikator partikulat halus PM2.5.
Kondisi tersebut relatif tidak dirasakan sebagian masyarakat, tetapi dapat mengganggu kesehatan kelompok yang sensitif terhadap pencemaran udara.
“Untuk masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan,” kata Helni.
Ia juga mengimbau masyarakat menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, masyarakat diminta tidak membakar sampah atau lahan karena dapat memperburuk kondisi udara.
Helni menambahkan, masyarakat yang mengalami sesak napas atau batuk berkepanjangan sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Langkah pencegahan tersebut penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan partikel di udara.
Terkait waktu berakhirnya fenomena haze, Helni mengatakan kondisi tersebut masih bergantung pada aktivitas pembakaran dan dinamika atmosfer.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dipantaunya saat wawancara, kondisi udara di sejumlah wilayah Flores diperkirakan mulai membaik sekitar 15 Oktober 2026, sementara wilayah lain masih perlu dipantau.
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan kondisi cuaca melalui kanal resmi BMKG.
Masyarakat juga diharapkan menghindari aktivitas yang dapat menambah polusi udara serta menjaga kesehatan selama fenomena udara kabur masih berlangsung.
Sementara Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lembata, Andris Koban, menyebutkan Fenomena Haze yang terjadi saat ini di Kabupaten Lembata turut dipengaruhi oleh Abu Vulkanik dari aktivitas Gunung Ile Lewotolok.
“Fenomena Haze di Kabupaten Lembata tidak hanya asap dari Kalimantan, Sumatra dan Papua, tetapi juga karrna debu vulkanik karena erupsi gunung Ile Lewotolok terus berlangsung hingga saat ini,” ungkapnya, saat ditemui Senin (19/10/2026).
Selain itu, Andris juga menyebutkan bahwa kebakaran lokal di wilayah Kabupaten Lembata juga turut nyumbang fenomena Haze di langit Kabupaten Lembata, meski tidak terlalu signifikan.
“Kita kesulitan melakukan pemadaman karena kondisi kekeringan dengan persediaan air yang semakin berkurang, sehingga tidak terlalu signifikan tetapi turut menyumbang,” jelasnya.
Selain itu, ia menyampaikan pengamatan lain yang dilakukan yaitu debu yang ditemukan diperebutkan rumah saat ini bukan hanya debu tanah tetapi juga debu vulkanik.
“Berdasarkan pengamatan visual saja, abu yang sekarang menempel di perumahan kita itu abu uang berbeda karena telah tercampur dengan abu vulkanik,” ungkapnya.
Upaya yang dilakukan pemerintah daerah melalui BPBD Kabupaten yaitu melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait bantuan masker dan air bersih.
“Sejauh ini kita berkoordinasi dengan DLH dan beberapa pihak. Kita tidak menemukan pengeluhan terkait fenomena Haze karena ISPA paling banyak disebabkan oleh Abu Vulkanik,” jelasnya. ***




Komentar