LEMBATA|VIVATIMUR.ID – Pekerja rumah burung walet di bukit cinta Lembata Asir Arif bersama dua rekannya keluhkan terkait upah kerja yang belum dibayar lunas oleh CV. Qiana Nafeesa.
Asir Arif pekerja rumah burung Walet kepada media ini Jumat 24 Juli 2026 meminta agar dinas Pariwisata bertanggung jawab agar persoalan dengan kontraktor dalam hal ini CV Qiana Nafeeza segera berakhir.
“Kontraktor kan dinas yang punya jadi semuanya berkaitan. Jadi kalau kontraktor lari dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata harus bertanggung jawab,” tegas Asir.
Dijelaskan Asir, awal Survei dinas pariwisata memanggil dirinya ke lokasi bukit cinta.
“Waktu itu kami sepakat upah kerja 25 juta dan Perawatan 3 bulan 5 juta jadi total 30 juta, tetapi sampai PHO upah yang dibayar baru 20 juta, sisa yang belum dibayar 10 juta dan kontraktornya sudah kabur,” beber Asir.
Ia menegaskan, kontraktor dinas yang setujui maka dinas juga harus bertanggung jawab.
“Saya sudah mengadu lewat pengawas dinas juga tidak ada solusi,” imbuhnya.
Sementara kadis Pariwisata Lembata, Jack Wuwur Menjelaskan, upah pekerja sudah dicairkan ke pihak ketiga.
“Uang semua sudah kita cairkan ke pihak ketiga sesuai kontrak. Pihak ketiga yang lalai membayar. Jadi tidak ada sengketa dengan dinas untuk keluhan pekerja. Kami juga sedang cari pihak ketiga tersebut untuk pencairan retensi,” ungkap Asir meneruskan WA kadis pariwisata Ekonomi Kreatif Lembata.***




Komentar