GESER UNTUK LANJUT MEMBACA
Religi
Beranda » Berita » OMK PKRW di Lembata Pentas Tablo Kisah Sengsara Yesus, Ribuan Umat Larut Dalam Permenungan 

OMK PKRW di Lembata Pentas Tablo Kisah Sengsara Yesus, Ribuan Umat Larut Dalam Permenungan 

OMK Kristus Raja Wangatoa Pentas Tablo Budaya Kisah Sengsara Yesus/Foto: OMK PKRW

OMK PKRW di Lembata Pentas Tablo Kisah Sengsara Yesus, Ribuan Umat Larut Dalam Permenungan

LEMBATA|VIVATIMUR.ID – Ribuan umat katolik di Paroki Kristus Raja Wangatoa, Lewoleba Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengikuti Ritual Jalan Salib atau Tablo sebagai peringatan akan wafatnya Yesus Kristus pada hari Jumat Agung di halaman Kantor Camat Nubatukan (3/4).

Selain dihadiri ribuan umat Katolik di Paroki Kristus Raja Wangatoa, pementasan tablo berdurasi 3 jam oleh 47 pemeran itu menguras air mata peziarah yang datang dari berbagai wilayah di  kota Lewoleba.

Disaksikan media ini, Jumat (3/4), ribuan umat memadati halaman kantor camat Nubatukan. Cuaca yang panas tak menyurutkan niat para peziarah untuk mengikuti tablo.

Tablo yang dipentaskan OMK PKRW tersebut menjadi momen refleksi iman yang mendalam atas kisah sengsara Yesus Kristus, yang wafat di kayu salib demi menebus dosa umat manusia.

Paskah 2026: Pastor Paroki Kristus Raja Wangatoa Ajak Umat Meneladani Para Murid dan Memperteguh Solidaritas

Dengan penuh penghayatan, para OMK memerankan setiap adegan sengsara Yesus mulai dari perjalanan memikul salib hingga menuju Bukit Tengkorak (Golgota).

Tablo budaya tersebut mengangkat tema “Berjumpa dengan Ular Menuju Tengkorak”, sebuah simbolisasi tentang pergulatan manusia melawan godaan dosa, keserakahan, kebencian, dan pengkhianatan yang pada akhirnya menghantar Yesus pada jalan penderitaan.

Pementasan ini disutradarai oleh Fr. Yohanes Don Bosco Belawa Teluma bersama Bung Delos, yang secara kreatif meramu kisah Injil dengan unsur budaya lokal Lamaholot.

Dalam beberapa bagian prosesi, iringan gong gendang serta tarian hedung khas Lamaholot turut menghidupkan suasana dramatik, menggambarkan iring-iringan manusia yang dahulu berseru “Hosana Putra Daud”, namun kemudian berubah menjadi teriakan “Salibkan Dia!”

Sepanjang perjalanan jalan salib tematis tersebut, umat diajak merenungkan setiap langkah penderitaan Kristus. Salah satu adegan yang paling menyentuh adalah perjumpaan Maria dengan Yesus yang memikul salib.

Ana Muji Lagukan ‘Popule Meus’ Mengiringi Kekudusan Prosesi Malam Jumat Agung di Larantuka 

Adegan ini menggambarkan kepedihan seorang ibu yang menyaksikan anaknya disiksa tanpa mampu menghentikan kekejaman dunia.

“Seorang ibu mungkin tidak mampu menghentikan penderitaan itu, tetapi cintanya tidak pernah berhenti,” demikian pesan reflektif yang disampaikan dalam narasi tablo tersebut.

Ratusan umat yang mengikuti prosesi tampak berjalan dengan khidmat mengelilingi area Kantor Camat Nubatukan. Sebagian besar mengenakan pakaian hitam sebagai simbol perkabungan dan solidaritas atas wafatnya Kristus.

Selain menjadi perayaan iman, kegiatan ini juga menunjukkan keterlibatan aktif kaum muda dalam kehidupan Gereja.

OMK Paroki Kristus Raja Wangatoa tidak hanya menampilkan drama religius, tetapi juga menghadirkan pesan spiritual yang kuat tentang kesetiaan, pengorbanan, dan kasih yang tidak pernah dikalahkan oleh dosa.

Doa dan Lagu Kedukaan Peziarah Semana Santa Menggema Dalam Persisan Anta Tuan di Kota Larantuka

Fr. Yohanes Don Bosco Belawa Teluma, sang sutradara yang ditemui media ini mengatakan bahwa kegiatan tersebut menjadi cara kreatif untuk mengajak umat merenungkan kembali makna penderitaan dan pengorbanan Yesus.

“Kami ingin umat tidak hanya mendengar kisah sengsara Yesus, tetapi benar-benar merasakannya. Melalui tablo ini, umat diajak berjalan bersama Yesus dan melihat bagaimana dosa, pengkhianatan, dan ketakutan bisa menjerumuskan manusia,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa simbol ular dalam pementasan tersebut menjadi refleksi atas realitas kehidupan manusia saat ini.

“Ular itu bisa hadir dalam iri hati, keserakahan, kebencian, atau sikap diam ketika kebenaran disalibkan. Tetapi jalan salib mengingatkan kita bahwa kasih Kristus selalu lebih kuat daripada dosa,” katanya.

Sementara itu, Bung Delos, salah satu sutradara yang terlibat dalam pementasan tersebut, menilai keterlibatan kaum muda dalam kegiatan ini menjadi pengalaman iman yang mendalam.

“Kami bukan hanya bermain peran, tetapi juga merenungkan makna setiap adegan. Dengan menghadirkan unsur budaya Lamaholot seperti gong dan hedung, kami ingin menunjukkan bahwa iman dan budaya dapat berjalan bersama,” ujarnya.

Dalam epilog tablo tersebut ditegaskan bahwa salib bukanlah akhir dari segalanya. Kematian bukanlah kemenangan terakhir. Dari kayu salib lahir pengampunan, dari luka lahir harapan, dan dari kubur akan lahir kebangkitan.

Melalui jalan salib tematis ini, umat diajak untuk tidak hanya mengenang penderitaan Kristus, tetapi juga berani memanggul salib kehidupan masing-masing dengan iman dan kasih.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement