LARANTUKA|VIVATIMUR.ID – Menyongsong prosesi Jumad Agung, ratusan warga kota Larantuka Selasa 31 Maret 2026 khususnya kelurahan Postoh hingga Larantuka melaksanakan ritual Tikam Turo.
Ritual yang ini biasanya terjadi pada hari Selasa dan Rabu jelang prosesi semana Santa Jumat Agung ini berlangsung di bawah kordinir Tuan Mardomu di kelurahan dan Armida masing – masing.
Untuk diketahui, Tikam Turo artinya membuat Turo ( pagar yang akan dipakai untuk mengikat lilin ) yang akan dipakai saat Prosesi Jumad Agung.
Umat setempat sudah sudah mulai mematangkan persiapan sejak satu hingga dua bulan lalu hingga tradisi Tikam Turo.
Tikam Turo artinya menancapkan kayu Kukung di tanah sebagai tempat untuk mengikat Lante ( bilah bambu ) seperti membuat pagar.
Lilin saat pelaksanaan prosesi Jumad Agung akan diikat di bilah bambu tersebut.
Diketahui di Armida Amu Tuan Mesias Anak Allah terdapat 4 suku yang memegang peranan yakni suku Ama Koten, Ama kelen, Ama Hurint dan Ama Maran.
Selama Pekan Suci Sementara Tuan Mardomu terang berkewajiban mempersiapkan segala perlengkapan untuk membuat Turo dan Armida serta menyiapkan makanan dan minuman untuk masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ini.
Terpantau, Selasa 31 Maret 2026, Tuan Mardomu menyiapkan kendaraan dan mengkordinir masyarakat untuk mengambil bilah bambu di tempat Tuan Mardomu untuk dibawa ke dua jalan yakni jalan bawah dan jalan tengah yang jadi rute prosesi.
Setelah selesai Tikam Turo, Tuan Mardomu menyuguhkan makanan dan minuman ala kadarnya bagi mereka yang terlibat dalam kegiatan ini.
Makna teologi dari Tikam Turo yakni buka jalan, siapkan jalan ke pekuburan Yesus. Jalan untuk mengarahkan Yesus dari salib ke kuburNya.
Jika Yohanes Pembaptis dulu menyiapkan jalan yang lurus dan rata untuk kedatangan Yesus, dengan Tikam Turo Ini, kita menyiapkan jalan kembalinya Yesus.
Jalan ini adalah jalan ke alam kematian.Maka itu ia harus terang dan bersinar.
Selain itu, pelita tidak boleh diletakan di bawah gantang melainkan harus di atas kaki supaya bisa menerangi ruangan. Begitupun lilin, harus diikat di atas perangkat Turo supaya bisa menerangi jalannya prosesi pemakaman ini.
Dengan “ Pasang Turo “ menyiapkan jalan kembalinya Yesus ini, kita juga diingatkan menyiapkan jalan kembali kita masing – masing.
Melakukan banyak perbuatan baik supaya jalan kembali kita pun terang benderang seperti yang kita lakukan untuk jalan kembali Yesus ini. ***


Komentar