LARANTUKA|VIVATIMUR.ID – Sesuai tradisi yang berlangsung selama hampir 500 tahun, prosesi laut dilaksanakan pada pagi hari setiap Jumat Agung.
Patung Tuan Meninu diarak dari Kapela Tuan Meninu di Kota Rewido, Kelurahan Sarotari, untuk kemudian ditahtakan pada Armida Tuan Meninu di Kelurahan Pohon Sirih.
Perarakan Patung Tuan Meninu merupakan bagian dari prosesi Jumat Agung yang akan berlangsung malam harinya.
Armida Tuan Meninu merupakan satu dari delapan armida yang akan dikunjungi saat perarakan patung Tuan Ma.
Seperti disaksikan vivatimur.id Jumat 3 April 2026 sejak pukul 18.30 Wita para peziarah sudah berdiri di jalan yang menjadi rute perarakan untuk menyaksikan dan bersama-sama peziarah melakukan prosesi.
Sebagaimana tradisi pada Jumat Agung malam, dilaksanakan prosesi Patung Tuan Ma mengelilingi Kota Larantuka.
Tradisi ini dianggap sebagai puncak dari seluruh proses Semana Santa. Tuan Ma akan menyinggahi 8 buah perhentian (armida), yakni Armida Missericordia, Armida Tuan Meninu, Armida St. Philipus, Armida Tuan Trewa, Armida Pantekebi, Armida St. Antonius, Armida Kuce, dan Armida Desa Lohayong.
Urutan Armida menggambarkan seluruh kehidupan Yesus Kristus mulai dari ke Allah-Nya (missericordia), kehidupan manusia-Nya dari masa bayi (Tuan Meninu), masa remaja (St. Philipus) hingga masa penderitaan-Nya sambil menghirup dengan tabah dan sabar seluruh isi piala penderitaan sekaligus piala keselamatan umat manusia.
Prosesi Jumat Agung adalah sebuah perarakan yang begitu semarak dan sakral.
Sejak perarakan keluar dari gereja, para “Ana Muji” melagukan “Popule Meus” yang mengisahkan tentang keluhan Allah akan rahmat dan kebaikan-Nya yang di sia-siakan oleh umat-Nya.
Sementara puteri-puteri Yerusalem meratapi penderitaan dan kesengsaraan Kristus dalam alunan ejus domine….
Di setiap Armida (perhentian), dalam keheningan nan bening, ketika semua doa dan lagu dihentikan berkumandanglah ratapan Kristus yang memilukan…”O vos omnes est dolor sicut dolor meus?” (Wahai kalian yang melintas di jalan ini adakah deritamu sehebat deritaku?).
Lagu pilu nan menyayat kalbu itu dinyanyikan oleh seorang perempuan berkerudung biru, sembari secara perlahan-lahan membuka gulungan berlukiskan ecce homo atau wajah Yesus bermahkota duri yang berlumuran darah.
Prosesi keagamaan tersebut hanya berlangsung di Larantuka, sementara di wilayah keuskupan lainnya, umat Katolik hanya melakukan prosesi jalan salib untuk mengenang kisah sengsara Yesus sampai wafat di kayu salib.
Prosesi jalan salib, umumnya berlangsung pada pagi hari di Jumat Agung tersebut, sedang pada sore harinya dilakukan upacara penciuman salib Yesus. ***


Komentar